Jumat, 31 Oktober 2014

Apakah saya bisa hamil ?

Apakah saya bisa hamil ?
Kemandulan bukanlah hal yang mudah diterima bagi setiap pasangan yang sudah menikah. Terlebih jika dalam pemeriksaan lebih lanjut ternyata diketahui salah satu pihak mengalami penyakit tertentu yang mengganggu proses reproduksinya. Selain berdampak pada kebahagiaan rumah tangga jika hal ini tidak diterima dengan bijaksana maka akan mengakibatkan pihak yang mengalami penyakit merasa sangat tertekan, tidak hanya dari pasangannya namun juga dari lingkungan sekitarnya. Kemandulan adalah gejala yang sering dialami wanita yang didiagnosis memiliki sindrom ovarium polikistik.
Dalam sebuah penelitian di luar negeri didapatkan tujuh dari sepuluh wanita yang mengalami infertilitas karena gangguan ovulasi ternyata mengidap sindrom ovarium polikistik. Angka ini cukup memberikan gambaran bahwa sindrom ovarium polikistik merupakan salah satu penyebab utama kemandulan (infertilitas).
Banyak hal yang mengakibatkan penderita sindrom ovarium polikistik ini terpaksa menanti si kecil lebih lama antara lain karena penderita sindrom ovarium polikistik mengalami gangguan keseimbangan hormon berupa peningkatan hormon Luteinizing Hormon (LH) yang menetap sehingga mencegah terjadinya ovulasi (pengeluaran sel telur) dari indung telur.4  Kadar LH yang meningkat menyebabkan sel teka yang aktif menghasilkan androgen dalam bentuk androstenedion dan testosteron. Keadaan hiperandrogenik ini menyebabkan lingkungan internal folikel bersifat dominan androgen sehingga tidak dapat berkembang dan menjadi atresia. Dalam pemeriksaan laboratorium dapat dilihat dengan rasio LH/FSH > 2,5. 5  Ketidakseimbangan hormon ini jugalah yang mengakibatkan mudahnya penderita sindrom ovarium polikistik yang berhasil hamil mengalami keguguran dan tidak jarang keguguran ini terjadi berulang. Sehingga tidak jarang penderita sindrom ovarium polikistik ini mengalami depresi berat, selain karena tekanan lingkungan budaya Indonesia yang masih mengutamakan keturunan dalam sebuah pernikahan, sehingga kemandulan adalah aib bagi seorang wanita, juga karena ancaman keguguran terhadap kehamilan yang diperolehnya dengan perjuangan yang membutuhkan waktu lama, biaya yang tidak sedikit dan cara yang tidak mudah.
Penderita sindrom ovarium polikistik juga cenderung memiliki kadar hormon pria (androgen) yang tinggi dalam darahnya dibandingkan wanita normal dan ini memberikan gejala berupa tampilan fisik yang menyerupai pria seperti tumbuhnya rambut di tempat-tempat yang lazimnya dimiliki pria seperti jenggot, rambut di daerah perut, rambut di daerah dada atau tumbuhnya rambut yang begitu lebat.3
Selain ketidakteraturan haid, gejala sindrom ovarium polikistik nampak begitu tersembunyi. Dengan gejala yang tidak begitu jelas seringkali sindrom ini baru ditemukan setelah seorang wanita menikah dan lama tidak kunjung dikaruniai si kecil. Pada remaja wanita yang sedang puber hal ini lebih sulit lagi dideteksi karena pada usia puber tersebut hormon reproduksi mereka belum stabil sehingga ketidakteraturan haid sering dianggap suatu hal yang lumrah oleh para orang tua. Beberapa keluhan lain yang mungkin timbul adalah ketika sang putri merasa malu menjadi manusia bulu karena banyaknya rambut yang tumbuh di badannya, lebat seperti pria, namun sekali lagi ini pun hal yang sering dianggap lumrah oleh orang tua sehingga pencukuran rambut, pemakaian obat pelepas rambut pun menjadi pilihan utama.
Satu hal penting yang bisa dijadikan pegangan oleh para orang tua adalah siklus haid remaja memang belum seteratur wanita dewasa, namun siklus ini akan perlahan menjadi stabil dalam waktu  satu sampai dua tahun sesudah haid pertama. Dengan demikian ketika seorang putri mengeluh haidnya belum teratur atau bahkan sampai beberapa bulan tidak haid sama sekali satu atau dua tahun sesudah haid pertamanya maka ini bisa menjadi tanda-tanda orang tua untuk waspada bahwa putrinya menderita sindrom ovarium polikistik.

Sumber: polycisticsovariumsyndrome

Tidak ada komentar:

Posting Komentar